Minggu, 28 April 2013

Peran IPNU-IPPNU di Perguruan Tinggi Indonesia

Surabaya, 27 April 2013

Bertempat di Aula Ponpes Mukmin Mandiri, Universitas Sunan Giri (UNSURI) Sidoarjo, acara Sarasehan & Temu PKPT IPNU-IPPNU se-Jawa Timur dihadiri oleh 9 perwakilan dari seluruh Jawa Timur. Sembilan perwakilan tersebut adalah UNSURI selaku tuan rumah, Universitas Jember (Unej), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, UNISDA Sidoarjo, STAIN Kediri, beberapa perwakilan dari PKPT se-Kabupaten Nganjuk, dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA).

Dengan mengambil tema "Peran IPNU-IPPNU di Perguruan Tinggi Indonesia, acara ini memfokuskan pada pembahasan beberapa persoalan PKPT, diantaranya :
  1. PKPT sebagai salah satu ujung tombak perjuangan IPNU-IPPNU
  2. PKPT sebagai wadah IPNU-IPPNU di kampus
  3. Arah dan tujuan PKPT selanjutnya
  4. Legalitas PKPT

Dari beberapa pembahasan tersebut, berikut tanggapan-tanggapan dari para peserta:
  1. Status PKPT masih setara PAC atau lebih tinggi?
  2. Adanya ambigu tentang arah pengkaderan dan PKPT (apakah politik, dakwah, atau yang lain?)
  3. Tidak adanya sistem pemilihan ketua dan masa jabatan yang seragam, dan belum standarisasi program kerja
  4. Status kebolehan PKPT dalam berpolitik ( kaitannya dengan PMII)
  5. Belum adanya kejelasan standar prosedur MAKESTA dan LAKMUD
  6. Apakah MAKESTA masih diperlukan, kalau sudah ada LAKMUD?
  7. Di Jawa Tengah tidak ada PKPT (Lho KOK BISA???)

Dari berbagai tanggapan tersebut, dan pembahasan-2 yang alot, akhirnya diputuskan:
  1. Status PKPT setara PAC
  2. Masa jabatan PKPT adalah 1 tahun, dan ketua dipilih melalui Konferensi Komisariat
  3. Standarisasi program kerja dan AD/ART mengacu kepada peraturan PBNU tentang PKPT dan PAC
  4. Konferensi Luar Biasa (KLB) diadakan apabila terjadi perubahan AD/ART, penggantian ketua karena sebab khusus, dan adanya kejadian luar biasa yang menuntut adanya KLB
  5. Garis Koordinasi PKPT kepada PCNU, karena setara PAC
  6. Kaderisasi PKPT tetap 2, LAKMUD dan MAKESTA.
Pada akhirnya acara diakhiri dengan tahlilan dan ramah-tamah. Dan semoga di pertemuan selanjutnya, bisa lebih sukses. Gotcha.............
Read more »»  

Kamis, 25 April 2013

PP IPNU: Jangan Ada yang Cari Untung atas Penundaan UN


Jakarta, NU Online
Pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menghimbau agar kasus penundaan Ujian Nasional UN tidak disikapi dengan emosional sekalipun kejadian ini yang pertama kalinya terjadi dalam sejarah pendidikan bangsa ini.

Sangat patut disayangkan dan tetap meminta agar pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bertanggung jawab.

Ketua Umum PP IPNU mengatakan banyak hal penyebab kejadian penundaan UN bisa terjadi, bisa karena kurangnya persiapan teknis pengadaan soal dan teknis distribusi, lemahnya kontrol pengawasan, proses tender dengan perusahaan yang tidak jelas dan lain-lain. Tapi ia mengingatkan jangan sampai kasus Penundaan UN ini ada pihak yang diuntungkan secara materi dan politik

"Hal ini tidak boleh terjadi lagi, seluruh dunia menyoroti kasus kejadian langka ini, jelas dalam hal ini siswa sangat dirugikan, dan jangan ada pihak memanfaatkan ini untuk pencitraan politik di tahun politik ini dan kami meminta agar ada proses pengusutan mekanisme tender pengadaan soal yang jelas sangat merugikan negara puluhan milyar ini," tegas Anam di Jakarta, Selasa (16/4).

Anam menambahkan, jangan ada pihak yang mendahulukan proyek pengadaan soal tapi menomorduakan proyek percetakan generasi penerus bangsa ini bisa sangat berbahaya.

Untuk itu dalam hal ini PP IPNU meminta agar semua pihak bersikap secara obyektif dan mencari solusi bersama agar kejadian ini tidak terulang kembali karena ini menyangkut masa depan tunas-tunas bangsa.

Pengurus PW dan PC IPNU di daerah juga diminta agar mengawal proses pelaksanaan UN ini, indikasi kebocoran soal, kerahasiaan dan hal-hal yang mengganggu jalannya pelaksanaan UN di daerah tetap dikawal.

Harapan PP IPNU juga agar semua siswa tetap tenang dan agar tetap berkonsentrasi mengikuti ujian, persiapan mantap akan berbanding lurus dengan hasil yang akan dicapai.

Read more »»  

Munculnya Departemen Perguruan Tinggi IPNU, PMII

Kelahiran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dapat dipisahkan dengan kelahiran dan keberadaan IPNU-IPPNU. Secara Yuridis Formal bahkan dalam mukaddimah PD/PRT (kini disebut AD/ART) PMII telah dinyatakan dengan tegas bahwa PMII adalah kelanjutan dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang telah dibentuk dalam Muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat.

Oleh karena itu sebelum kita menginjak tentang sejarah perjuangan PMII alangkah lebih baiknya apabila kita menengok sebentar tentang kelahiran dan keberadaan IPNU sebagai “Modal Dasar” berdirinya PMII. Bukankah masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu?

Upaya untuk membentuk wadah organisasi pelajar dikalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Tercatat dalam sejarah perjalanan IPNU-IPPNU, pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah berdiri sebuah organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren. Organisasi itu kemudin dikenal dengan nama Persatuan Santri Nahdlatul Oelama (PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok pesantren di Jatim saja, akan tetapi keberadaannya, patut dicatat dalam lembaran sejarah terutama sejarah kaum Nahdliyin, karena hal ini merupakan satu kesadaran yang penting; betapa perlunya hidup berorganisasi di kalangan pelajar.

Entah karena situasi Nasional ataupun karena terdapatnya kelemahan-kelemahan organisasional PSNO itu sendiri, akhirnya organisasi ini tidak pernah terdengar dalam percaturan dunia pelajar Indonesia, sampai dengan timbulnya satu kesadaran baru dikalangan pelajar NU yang berada di Surakarta untuk kembali menghimpun diri dalam satu wadah perjuangan khusus pelajar.

Di Kota Surakarta, (yang biasa dijadikan barometernya politik Jawa Tengah - pen) Sekelompok Pelajar SMA Negeri Surakarta yang dipelopori oleh rekan Mustahal Ahmad dan A Chalid Mawardi pada tanggal 27 Desember 1953, mendirikan satu wadah organisasi yang menghimpun para pelajar NU. Organisasi ini masih bersifat lokal dan bernama Ikatan Pelajar Nahdatul ‘Ulama Surakarta (IPNUS). Agar wadah ini berkembang menjadi wadah Nasional dan manfaatnya akan jauh lebih besar, maka 4 (empat) orang tokoh pelajar NU (rekan A Mustahal Ahmad, A. Ghoni Farida, dan rekan Sofyan Kholil serta A Chalid Mawardi) dalam Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan berbicara.

Dalam acara persidangan tersebut juru bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan Chalid Mawardi (Bp. Drs H. Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara karena secara usia beliau lebih tua dari Bp. A Khalid Mawardi, tetapi karena vokal Bp. Chalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu - Pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa pentingnya ada satu wadah dikalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini bertujuan antara lain:

1. Untuk melanjutkan azaz NU yakni Ahlus Sunnah Waljamaah.

2. Sebagai konsekensi terhadap Partai NU yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi partai yang berdiri sendiri.

3. Adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar pesantren.

Akhirnya setelah mendengar dari kedua tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat lahirnya organisasi Pelajar NU ini (yang kemudian dikenal dengan nama IPNU) dan menunjuk rekan Tolhah Mansyur sebagai ketua pertama.

Disusul kemudian pada 2 Maret 1955, berdiri pula Ikatan Pelajar Nahdalatul Ulama Putri di Solo. Organisasi ini untuk pertama kali disponsori oleh Umroh Mahfudzoh, Nihayah Mujib, dan Rumsiah. Bersamaan dengan muktamar I IPNU di Malang yang diselenggarakan pada tanggal 28 Februari s/d 5 Maret 1955 diusulkan dalam forum Muktamar ini dibentuknya satu wadah organisasi baru yang khusus menampung pelajar putri NU.

Dalam wadah IPNU-IPPNU itu banyak juga terdapat para mahasiswa yang menjadi anggotanya, bahkan hampir seluruh anggota pengurus pusat telah berpredikat sebagai mahasiswa. Oleh karena itu lama kelamaan ada keinginan di kalangan mereka untuk membentuk wadah yang khusus menghimpun para mahasiswa NU.

Suara-suara ini sangat nyaring terdengar terutama dalam muktamar III IPNU pada tanggal 1 – 5 Januari 1957 di Pekalongan, tetapi pucuk pimpinan IPNU sendiri masih belum menanggapi dengan serius suara-suara ini dikarenakan kondisi seperti yang dipaparkan di atas, yakni banyaknya pengurus IPNU-IPPNU yang telah menjadi mahasiswa, sehingga dikhawatirkan kalau wadah khusus mahasiswa ini berdiri akan lenyaplah IPNU-IPPNU.

Tetapi nampaknya aspirasi ini makin kuat, terbukti dalam muktamar III IPNU pada tanggal 27 – 31 Desember 1958 di Cirebon pucuk pimpinan IPNU setelah didorong oleh para peserta muktamar mengabulkan adanya satu wadah khusus yang menghimpun para mahasiswa NU tetapi secara fungsional dan organisatoris struktural masih didalam naungan IPNU – IPPNU yakni dengan nama wadah Departemen Perguruan Tinggi IPNU.

Nampaknya upaya untuk menanggulangi permasalah ini belum menunjukkan hasilnya. Keberadaan Departemen Perguruan Tinggi IPNU tidak berhasil menjawab permasalahan mahasiswa NU. Terbukti dalam konferensi Besar I IPNU pada tanggal 14 – 16 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta Forum konferensi Besar memutuskan menyetujui terbentuknya organisasi mahasiswa NU yang terpisah secara struktural maupun fungsional dari IPNU IPPNU.  (Ajie Najmuddin/Red:Anam)


Sumber: Sejarah singkat IPNU IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU-IPPNU Kodya Surakarta (1970) ; Buku Sejarah PMII Surakarta.
Read more »»  

Jalan Terjal Terbentuknya Organisasi Mahasiswa NU

Kemunculan Departemen Perguruan Tinggi dalam IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama), merupakan sebuah upaya untuk mewadahi para mahasiswa NU yang ada di IPNU-IPPNU. Hal tersebut terwujud pada muktamar III IPNU pada tanggal 27 – 31 Desember 1958 di Cirebon

Namun, upaya untuk mendirikan satu organisasi yang menghimpun para mahasiswa NU tersebut sebenarnya sudah lama ada, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan sekelompok mahasiswa NU yang berdomisili di Jakarta untuk mendirikan IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama) yakni pada bulan Desember 1955.

Untuk lebih jelasnya kita kutipkan tulisan A. Chalim: “Hasrat untuk mahasiswa Islam yang berhaluan Ahlusunha wal jamaah untuk mendirikan organisasi tersendiri sebenarnya sudah lama ada, dan karena Partai Nahdatul Ulama adalah merupakan refleksi dari Islam Ahlusunha Wal Jamaah organisasi itu (IMANU, Pen) diorientasikan kepadanya (Partai NU), cita pembentukan organisasi itu pada bulan Desember 1955 di Jakarta dengan nama IMANU (Ikatan Mahasiswa Nahdatul Ulama)”.

Namun, kehadirannya oleh PP. IPNU belum bisa diterima. Karena selain kelahiran IPNU itu sendiri masih baru yaitu pada tanggal 24 Februari 1954, pada waktu diadakan konferensi Besar Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdatul Ulama se Indonesia di Semarang, yang juga banyak diantara pengurus IPNU itu sendiri kebetulan sebagian besar mahasiswa sehingga apabila IMANU didirikan dikhawatirkan justru akan lenyapnya IPNU.

Dari adanya keberatan para aktifis IPNU itu maka boleh dikatakan bahwasanya kehadiran IMANU itu menemui jalan buntu atau lebih tepat dikatakan mati sebelum dibesarkan. Tetapi usaha usaha untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu tetap terus berlanjut bahkan dapat pula dicatatkan disini satu usaha untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu pernah pula mencapai keberhasilan walaupun sifat organisasi itu hanya bersifat lokal.

Kemunculan KMNU di Solo

Upaya untuk membentuk organisasi mahasiswa NU tersebut juga terjadi Di Kota Surakarta, Jawa tengah. Sekelompok mahasiswa NU yang dimotori oleh sahabat H. Mustahal Ahmad (waktu itu beliau mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Cokroaminoto Surakarta), dengan mendirikan keluarga mahasiswa Nahdatul Ulama (Surakarta) juga pada tahun 1955, bahkan boleh dikatakan KMNU adalah satu-satunya organisasi mahasiswa NU yang dapat bertahan sampai dengan lahirnya PMII pada tahun 1960.

Kelahiran dan perkembangan KMNU ini, walaupun tidak ada sangkut pautnya dengan PMII, secara kronologis historis dengan kelahiran PMII tetapi perlu pula kami catatkan disini sebab nanti ketika PMII dibentuk di Surabaya, salah satu bahkan dua diantara 13 sponsor pendiri PMII berasal dari Kota Solo.

Kembali usaha untuk mendirikan satu organisasi mahasiswa NU yang bersifat nasional masih terus berlanjut, hal ini terbukti dari makin besarnya keinginan para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa sendiri, suara-suara itu didengungkan dalam Muktamar II IPNU pada tahun 1957 di kota Pekalongan. Hal ini seperti dituturkan oleh sahabat Wail Haris Sugianto, “Tiga tahun setelah berdirinya IPNU yaitu dalam Muktamar II IPNU di kota Pekalongan yang diselenggarakan pada tanggal 1-5 Januari 1957 nampak lebih terang lagi mahasiswa-mahasiswa NU yang tergabung dalam IPNU makin besar jumlahnya. Dimana dalam muktamar tersebut sudah ada keinginan untuk membentuk satu wadah tersendiri dikalangan mahasiswa mahasiswa Nahdatul Ulama.”

Selain IMANU (Jakarta) dan KMNU (Solo), kemudian di Bandung juga muncul PMNU (Persatuan Mahasiswa NU) dan masih banyak lagi di kota yang terdapat perguruan tinggi, yang mempunyai keinginan serupa. Tetapi dalam hal ini pimpinan IPNU tetap membendung usaha-usaha tersebut, dengan satu catatan pimpinan pusat IPNU akan lebih mengintensifkan akan usaha-usahanya untuk mengadakan penyelidikan :

1. Berapa besar potensi mahasiswa Nahdatul Ulama?

2. Sampai berapa jauh kemampuan untuk berdiri sendiri sebagai organisasi mahasiswa?

Kemudian didalam Muktamar III IPNU di Cirebon yang diselenggarakan pada tanggal 27-31 Desember 1958, Muktamar berpendapat bahwa sudah waktunya untuk menentukan status dari para mahasiswa kita. Akhirnya dalam Muktamar tersebut diputuskan adanya Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang dipimpin oleh rekan Ismail Makky.

Namun pada kenyataanya usaha tersebut diatas tidaklah banyak berarti bagi kemajuan para mahasiswa NU sendiri hal tersebut dikarenakan beberapa sebab yakni:

1. Kondisi obyektif menyatakan bahwasanya keinginan para pelajar sangat berbeda dengan keinginan dan perilaku para mahasiswa.

2. Dan ternyata gerak dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU itu sangat terbatas sekali terbukti untuk duduk menjadi anggota PPMI (Persatuan Perhimpunan mahasiswa Indonesia, satu konfederasi organisasi mahasiswa extra Universitas), tidaklah mungkin bisa, sebab PPMI adalah gabungan ormas-ormas mahasiswa. Apalagi dalam MMI (Majelis Mahasiswa Indonesia, satu federasi dari para Dewan / Senat Mahasiswa, juga tidaklah mungkin).

Menyadari akan keterbatasan itu dan berkat dorongan-dorongan dari pelbagai pihak serta dengan mengambil beberapa per imbangan diantaranya :

1. Didirikannya Perguruan Tinggi NU dipelbagai tempat seperti PTINU di Surakarta (sekarang bernama Universitas Nahdatul Ulama), Fakultas Ekonomi dan Tata Niaga dan Fakultas Hukum dan Tata Praja di Bandung (sekarang menjadi Universitas Islam Nusantara, Bandung, Pen) dan Akademi Ilmu Pendidikan dan Agama Islam di Malang (sekarang bernama Universitas Islam Malang, Pen) dan yang berarti makin dibutuhkannya saluran bidang bergerak bagi mahasiswa mahasiswa kita.

2. Adanya dorongan dari pucuk pimpinan lembaga Pendidikan Maarif NU sendiri agar lebih mengkonkritkan bentuk organisasi mahasiswa kita.

3. Adanya dorongan-dorongan dari perorangan para mahasiswa kita yang kuliah di PTINU untuk mengkonkritkan wadah dari para mahasiswa NU.

4. Adanya kenyataan praktis maupun psikologis yang berbeda disegi system belajar dari kalangan pelajar dan mahasiswa, dan akhirnya berkesimpulan

5. Dirasakan sudah waktunya untuk mendirikan satu organisasi mahasiswa Nahdatul Ulama.

Dan akhirnya upaya-upaya untuk mendirikan organisasi mahasiswa NU itu mencapai titik terang setelah secara panjang lebar sahabat Ismail Makky dan sahabat Muhamad Hartono, BA berbicara di depan konferensi Besar I IPNU di Yogyakarta yang diselenggarakan pada tanggal 14-17 Maret 1960 dan akhirnya atas dasar uraian-uraian dan perbagai argumentasi tentang pentingnya dibentuk satu wadah organisasi mahasiswa NU yang lepas baik secara organisatoris maupun adminstratif.

Maka diputuskanlah bahwa setelah konferensi besar IPNU ini maka akan di adakan musyawarah mahasiswa NU dengan limit waktu satu bulan setelah konbes IPNU tersebut, direncanakan musyawarah pembentukan organisasi mahasiswa NU itu akan dilaksanakan di Kota Surabaya.

Sumber: Sejarah singkat IPNU IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU-IPPNU Kodya Surakarta (1970); Buku Sejarah PMII Surakarta.
Read more »»  

NU Akan Jadi Pionir Perekat Umat

Ketua PWNU Maluku : KH Mahyuddin al-Habsyi Latuconcina
Persebaran warga NU sudah mencapai tingkat internasional. Kenyataan ini dibuktikan dengan aktifnya beberapa Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di beberapa negara, seperti Maroko, Sudan, Mesir, Maroko, Amerika, Australia, Jerman dan sejumlah negara-negara Eropa lainnya. Perkembangan ini setidaknya menunjukkan, NU sedang tumbuh seiring bertambahnya tantangan yang ia hadapi.

Hanya saja, keadaan yang kian mengglobal tersebut tidak lantas paralel dengan kenyataan bahwa pekerjaan rumah NU di dalam negeri sudah tuntas. Khusus untuk NU di luar Pulau Jawa, mayoritas menghadapi sejumlah kendala, salah satunya karena kurangnya semangat keber-NU-an, terutama dibanding Nahdliyin di sekitar tempat ormas Islam terbesar ini lahir.
Kondisi ini tentu meninggalkan sejumlah konsekuensi. Sarana prasarana yang serba terbatas, lembaga pendidikan NU atau pesantren yang minim, hingga aktivitas organisasi yang seadanya. Padahal, jika merujuk pada khazanah tradisi dan ideologi yang dianut, NU sangat potensial memberi peran utama, khususnya dalam hubungan sosial-keagamaan, apalagi di daerah yang rawan perpecahan.
Mahbib Khoiron dari NU Online sempat melakukan wawancara pendek dengan ketua baru Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Maluku KH Mahyuddin al-Habsyi Latuconcina saat berkunjung di Jakarta beberapa waktu lalu. Maluku merupakan wilayah di bagian timur Indonesia yang mewakili gambaran potensi dan kendala NU di atas.
Apa program prioritas Bapak setelah terpilih menjadi Ketua PWNU Maluku?
Kami dari pengurus terpilih melihat keberadaan NU Maluku selama kepemimpinan ketua yang dua tahun berturut-turut ini, kurang lebih 10 tahun, mandek programnya. Makanya, nanti insyaallah—sambil menunggu saya pelantikan—akan kita aktifkan kegiatan seluruh warga Nahdliyin di provinsi ini, terutama lailatul ijtima’ setiap malam Jumat. Lailatul ijtima’ (malam pertemuan rutin warga NU) ini harus kita angkat kembali karena merupakan warna ciri khas ke-NU-an. Itu yang pertama.
Yang kedua, dalam waktu singkat ini kita akan berupaya merealisasikan pembangunan gedung, sekretariat Pengurus Wilayah NU Maluku. Rencananya gedung akan dibuat dua lantai. Di bawah adalah parkiran, kemudian di atas adalah kantor pengurus wilayah sendiri, termasuk ruang khusus untuk PMII, IPNU, Muslimat, Fatayat, serta lembaga, lajnah, dan banom-banom NU lainnya. Kita satukan semua dalam satu gedung. Jadi kalau ada kegiatan-kegiatan akbar, warga Nahdliyin langsung bisa serempak. Supaya lebih efektif. Jadi ini adalah usaha untuk menghidupkan program-program NU.
Bagaimana gambaran umum Nahdliyin di Maluku? 
Ya, kalau bicara soal amalan (tata cara adat dan ritual ibadah), di Provinsi Maluku itu 95% Nahdliyin. Seluruh kabupaten dan kota itu amalannya amalan Sunni. Tradisi Nahdliyin cukup berkembang di sana, seperti dzikir, tahlilan, barzanji, shalawatan, peringatan maulid, isra’ mi’raj. Itu sudah rutin.
Bagaimana hubungan warga NU dengan kelompok lain di sana?
Muslim di Maluku ada 64%, sisanya Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Soal ketegangan tidak terlalu terlihat. Karena mereka sadar pasca-kerusuhan masa lalu yang lebih banyak disebabkan oleh provokator dan kepentingan pribadi. Insyaallah di masa kepemimpinan kami ini, setelah terpilih sebagai kepala Kanwil Kemenag (Maluku), apalagi juga terpilih sebagai ketua NU, kita jadikan Maluku damai. Kita jadikan umat Maluku bersatu. Karena Nahdliyin memang menganut prinsip-prinsip sebagaimana diajarkan Rasulullah. Prinsip-prinsip dasar yang menjadi ajaran Nahdliyin kita upayakan diterapkan semuannya.
Kami komitmen akan hidupkan seluruh lembaga kita. Seperti lembaga pendidikan, lembaga kesehatan, lajnah, lembaga dakwah, karena selama ini diambil alih oleh Kodam. Itu yang sangat riskan. Kok jabatan kanwil sama jabatan tanfiziyah diambil alih oleh Kodam? Hahaha. Untuk reshuffle dalam konferensi wilayah (konferwil) ini, kita juga sudah betuk tim formatur. Tak lupa kita akan kembangkan pula persoalan pendidikan, baik pesantren, dan perguruan tinggi.
Bagaimana dengan tantangan syiar agama di Maluku?
Tantangan dakwah, jika dilihat dari sisi keumatan, tidak ada. Persoalan di sana itu persoalan transportasi. Persoalan mengumpulkan umat itu sangat gampang. Acara LDNU kemarin itu aja (istighatsah kubra di Seram Utara, Maluku Tengah, Maret lalu, red) sangat banyak massanya, ribuan. Karena mereka memang sangat cinta agama. Kalau ada perayaan keagamaan atau dengar ada dakwah mereka sangat bersemangat. Antusiasme mereka luar biasa. Jadi tidak ada tantangan untuk pengembangan dakwah dari segi ini.
NU Maluku ini akan menjadi perekat umat. Menjadi pionir dalam membangun kerukunan umat beragama. Jadi diharapkan sisa-sisa ekses dari kerusuhan 1999-2003 itu benar-benar terlupakan. Kita harapkan NU mempunyai peran yang strategis dalam menyatukan umat.
Kalau bicara soal hubungan antarumat beragama—antara umat Islam dan non-muslim, dalam hal ini Protestan dan Katolik—di Maluku kan sudah ada budaya dasar, ada yang disebut pela gandong, ada pela tampa sirih. Pela gandong itu ciri khasnya yaitu adanya ikatan batin antarumat beragama, namun karena mereka memiliki hubungan sekandung: seayah, seibu, sekakek, senenek. Pela tampa sirih merupakan satu keterikatan keluarga yang diangkat berdasarkan perjanjian bersama.
Bagaimana dengan perkembangan pendidikan NU?
Pesantren di Maluku baru ada 6. Kita rencana akan memperbanyak pesantren. Insyaallah kita akan nambah. Kita juga akan nambah beberapa cabang pesantren. Pesantren As-Shiddiqiyah (berpusat di Jakarta) juga akan kita bangunkan cabang di sana. Pesantren Darun Najah (Jakarta) juga sudah memberi isyarat untuk mendirikan cabang di Maluku Tengah.
Read more »»  

Tiga Konsep Memajukan IPNU-IPPNU



Yogyakarta, NU Online
Sebagai Banom kaum pelajar, IPNU-IPPNU harus terus meremajakan konsepnya dalam menjawab persoalan jaman. Jangan sampai IPNU-IPPNU kehabisan stok konsep, karena tantangan jaman yang dihadapi sangat kompleks.

Demikian disaampaikan Kiai M Mustafied, Pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi, dalam acara konferensi cabang yang diadakan oleh PC IPNU-IPPNU Sleman di PP Al Aziz Nurul Huda, Sleman tanggal 20 dan 21 April 2013.

Bagi Kiai Mustafied, ada tiga hal penting untuk membangun IPNU-IPPNU agar menjadi organisasi yang lebih baik. Pertama, dalam konfercab kali ini untuk menjadi organisai yang lebih baik, IPNU-IPPNU harus mempunyai program yang jelas. Hal tersebut meliputi tentang acuan, alasan yang jelas dan harus bisa menjelaskan pentingnya program tersebut dijalankan.

“Dengan adanya kejelasan program tersebut, IPNU-IPPNU bisa menggapai cita-citanya,”  ujar Kiai Mustafied.

Kedua, dalam melaksanakan program, IPNU-IPPNU harus mempunyai batasan waktu yang jelas. Jangan sampai menjalankan program hanya mengalir tanpa memperhatikan jadwal. Ketiga, kesanggupan kerja keras dan komitmen dalam menjalankan tugas yang diemban oleh kader IPNU-IPPNU.

“Kalau ketiga hal tersebut dilaksanakan dengan baik oleh kader-kader IPNU-IPPNU, maka organisasi ini akan lebih baik,” pungkasnya.
Kiai Mustafied mengatakan pentingnya kemampuan untuk membaca apa yang akan mempengaruhi masa depan. Posisi IPNU-IPNU masa depan dipenuhi tantangan yang kompleks, tidak bisa dibaca secara instan.
Ia mengatakan ada sembilan variabel untuk memahami dan mencetak generasi kader IPNU-IPPNU yang paham dengan tren. Agar kader IPNU-IPPNU tidak ketinggalan seiring dengan berkembangnya zaman.

Sembilan variabel tersebut adalah sebagai berikut, pertama, harus memahami hubungan antar Amerika dan China. Karena ke dua negara tersebut dapat memprediksikan wajah dunia yang akan datang. Sehingga kader IPNU-IPPNU tidak boleh untuk mengesampingkan isu-isu nasional. Dengan demikian, kader IPNU-IPPNU tidak akan mencetak pelajar yang ketertinggalan.

Kedua, yang diperhatikan adalah isu kesehatan. 20 tahun yang akan datang, kesehatan menjadi salah satu problem masyarakat dan internasional. Ketiga, problem iklim. Keempat, perkembangan ilmu-ilmu yang aneh, misalnya kloning. Kelima, pergeseran struktur tenaga kerja. Keenam, pergeseran demografi. Ketujuh, masalah pangan. Kedelapan, meningkatnya komersialisasi di bidang pendidikan. Kesembilan, privatisasi.

“Dari kesembilan variabel tersebut, kader IPNU-IPPPNU harus mengetahui isu-isu tersebut, terutama masalah pendidikan. Dengan mengetahui isu-isu tersebut, IPNU-IPPNU akan mengetahui tren yang akan terjadi 10-15 tahun lagi, dan dapat mengantisipasi lewat pengkaderan IPNU-IPPNU” tandas Mustafied.
Read more »»  

IPNU-IPPNU Harus Fokus Garap Pendidikan



Sleman, NU Online
IPNU-IPPNU harus fokus pada soal-soal pendidikan, tidak ‘tergoda’ menggarap hal-hal lain misalnya tentang buruh dan batsul masail. IPNU-IPPNU diberi mandat organisasi untuk mengurus dunia kepelajaran dan isu-isu pendidikan.
Demikian disampaikan alumni IPNU, M. Mustafied, Pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi dalam acara konferensi cabang PC IPNU-IPPNU Sleman di Pondok Pesantren Al Aziz Nurul Huda, Sabtu (20/4) lalu.

Ia mengingatkan para peserta, bahwa IPNU-IPPNU harus menyiapkan generasi muda yang akan memimpin sepuluh dan lima belas tahun yang akan datang. Jangan hanya mengurusi masa lalu dan saat ini saja, tetapi juga harus menyiapkan generasi 10 hingga 15 tahun yang akan datang.

“Ini harus menjadi kesadaran bagi pengurus IPNU-IPPNU. Tugas kita adalah fokus pada pemberdayaan pelajar,” tegasnya.

“Kader IPNU-IPPNU juga harus tahu dan merespon terhadap kebijakan-kebijakan pendidikan, agar bisa bersosialisasi kepada masyarakat, dan jika ditanya oleh masyarakat juga bisa menjawab. Misalnya tentang kebijakan ujian nasional (UN), Kader IPNU-IPPNU harus bisa mengkritisi hal tersebut,” tambahnya.

Konferensi cabang tersebut diikuti oleh beberapa pengurus IPNU-IPPNU se-kabupaten Sleman, yang terdiri oleh pimpinan komisariat, pimpinan anak cabang, dan kader-kader IPNU-IPPNU. Selain peserta, sebagai tamu undangan turut hadir juga PW IPNU-IPPNU Yogyakarta, PCNU dan Fatayat Sleman.

Acara konfercab tersebut berlangsung selama dua hari, Sabtu (20/4) sampai Ahad (21/4). Pada hari pertama, kegiatan tersebut diawali dengan karnaval budaya. Kemudian malamnya dilanjutkan dengan acara inti yaitu konferensi cabang oleh PC IPNU-IPPNU Sleman, sampai hari kedua.
Read more »»  

IPNU Makin Prihatin dengan Proses Pelaksanaan UN

Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Khairul Anam mewakili seluruh kader IPNU di daerah merasa sangat perihatin dengan proses pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

Keprihatinan dengan proses distribusi soal yang terlambat, penundaan pelaksanaan UN terjadi dimana-mana, soal-soal yang rusak dan tidak terbaca, bocoran kunci jawaban soal palsu sampai kemudian anggaran UN untuk Sekolah Dasar (SD) pun belum cair sampai sekarang.

“Ini adalah bencana pendidikan dan semua pihak harus bersama-sama mencari solusi, baik Presiden, Bapak Menteri Pendidikan, Kemendikbud, DPR, Perusahaan, Masyarakat dan bahkan kami IPNU sebagai organisasi komunitas pelajar pun merasa bertanggung jawab atas kejadian ini, so jangan saling menyalahkan ,” kata Anam menambahkan.

“Kami dalam hal ini PP IPNU terus berkoordinasi dengan rekan-rekan di daerah untuk mengumpulkan data, bahkan data info kami terima ada soal untuk wilayah Depok yang nyasar ke Karawang, ini problem sangat teknis.  Untuk itu, perlu didalami persoalannya dan diinvestigasi secara menyeluruh sehingga diperoleh hasil yang komprehensif, mulai dari regulasi, sistem anggaran dan pelaksanaan teknis di lapangan, jangan ada dulu yang mundur dari tugas dan tanggung jawab sebelum semuanya bisa diungkap” tuturnya.

Terkait dengan karut-marutnya persoalan pelaksanaan UN ini PP IPNU akan memanfaatkan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada tanggal 2 Mei 2013 sebagai hari refleksi pendidikan, PP IPNU akan melakukan aksi keprihatinan dan Kegiatan “Rembuk Pelajar” bersama para tokoh pendidikan nasional untuk mencari akar masalah pendidikan ini dan solusi bersama semua pihak.

“UN akan kita bedah secara keseluruhan, mulai dari paradigma, regulasi, sistem anggaran dan pelaksanaan teknis di lapangan apakah masih efektif sebagai alat evaluasi pendidikan saat ini, hasilnya akan kami berikan ke semua pihak sebagai rekomendasi, ini gerakan yang solutif, tidak demo teriak-teriak," tegas Anam.

Kegiatan “Rembuk Pelajar” ini rencana akan dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2013 sebagai puncak Hari Pendidikan Nasional.
Read more »»  

HARLAH KE-63 FATAYAT NU Perjuangan Kartini, Perjuangan Fatayat NU


Ketua Umum Pucuk Pimpinan Fatayat NU Ida Fauziyah mengatakan, cita-cita dan perjuangan Kartini adalah perjuangan Fatayat juga. Kartini adalah inspirasi untuk perempuan-perempuan NU.

Ida menjelaskan inspirasi itu. Pertama, budaya membaca dan menulis yang dilakukan Kartini harus menjadi kebiasaan perempuan Indonesia, termasuk Fatayat,  ”Budaya membaca mungkin sudah banyak yang dilakukan perempuan,” katanya.

Ida menjelaskan itu kepada NU Online selepas peringatan Hari Lahir Fatayat NU ke-63 dengan tema "Meneguhkan karakter keislaman dan keindonesiaan,” di gedung Langen Pelikrama, Pegadaian, Jakarta Pusat, Rabu, (24/4) 

Seharusnya, tidak sekadar membaca, tapi harus menulis. Karena, menurut Ida, melalui membaca dan menulis bisa membangun karakter seseorang.

Kedua, inspirasi dari Kartini adalah sosok yang mengembangkan ekonomi perempuan. Ia seorang perempuan yang waktu itu dibatasi, tapi bisa mengapresiasi ukiran-ukiran khas Jepara (tempat lahir Kartini), “Kartini adalah pendobrak!” katanya.

Di samping itu, Kartini melakukan diplomasi internasional. Ia melakukan hubungan dengan teman-temannya di belanda,”Para anggota Fatayat harus banyak belajar kepada perjuangan Kartini seperti itu,” pungkasnya.

Fatayat NU didirikan pada tanggal 24 April 1950 yang dirintis tiga serangkai, yaitu Murthasiyah, Khuzaimah Mansur, dan Aminah.
Read more »»  

Selasa, 23 April 2013

IPPNU -Dari Masa Ke Masa-





LATAR BELAKANG SEJARAH KELAHIRAN IPPNU
Bermula dari perbincangan ringan yang dilakukan oleh beberapa remaja putri yang sedang menuntut ilmu di Sekolah guru Agama (SGA) Surakarta, tentang keputusan Muktamar NU ke-20 di Surakarta. Maka perlu adanya organisasi pelajar di kalangan Nahdliyat. Dalam keputusan ini di kalangan NU, Muslimat NU, Fatayat NU, GP. Ansor, IPNU dan Banom NU lainnya untuk membentuk tim resolusi IPNU putri pada kongres I IPNU di Malang Jawa Timur, selanjutnya disepakati dalam pertemuan tersebut bahwa peserta putri yang akan hadir di kongres Malang di namakan IPNU putri.

Dalam suasana kongres ternyata keberadaan IPNU putri nampaknya masih diperdebatkan dengan secara alot. Semula direncanakan secara administratif hanya menjadi departemen di dalam tubuh organisasi IPNU. Sementara hasil negosiasi dengan pengurus teras PP IPNU telah membentuk semacam kesan eksklusivitas IPNU hanya untuk pelajar putra. Melihat hasil tersebut maka pada hari kedua kongres, peserta putri yang hanya diwakili lima daerah (Yogyakarta, Surakarta, Malang, Lumajang, dan Kediri) terus melakukan konsultasi dengan dua jajaran di pengurus teras Badan Otonom NU yang menangani pembinaan organisasi pelajar yaitu PB Ma’arif (saat itu dipimpin Bpk. KH. Syukri Ghozali) dan ketua PP Muslimat NU (Mahmudah Mawardi). Maka dari pembicaraan selama beberapa hari telah membuat keputusan sebagai berikut:
  1. Tanggal 28 Februari – 5 Maret
  2. Pembentukan Organisasi IPNU putri secara organisatoris dan secara administratif terpisah dengan IPNU
  3. Tanggal 2 maret 1995M/8 Rajab 1374 H dideklarasi8kan sebagai hari kelahiran IPNU putri
  4. Untuk menjalankan roda organisasi dan upaya pembentukan pembentukan cabang selanjutnya ditetapkan sebagai ketua yaitu UMROH MAHFUDHOH dan sekretarisnya bernama SYAMSIYAH MUTHOLIB.
  5. PP IPNU putri berkedudukan di Surakarta Jawa Tengah.
  6. Memberitahukan dan memohon pengesahan resolusi pendirian IPNU putri kepada PB Ma’arif NU, kemudian PB Ma’arif NU menyetujui dengan merubah nama IPNU putri menjadi IPPNU(Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama)
PERJALANAN IPPNU DARI MASA KE MASA
Sejalan dengan adanya pelaksanaan konggres dari beberapa zaman ( Kemerdekaan, Orla, orba, Era reformasi) tentu mengalami berbagai peristiwa yang sangat menonjol dalam suatu keputusan kongres, dan dalam perjalanan IPNU dari masa ke masa antara lain :
  • Bulan Februari 1956 diadakan konferensi IPPNU di Surakarta
  • Tanggal 1-4 Januari 1957 pada muktamar IPNU di Pekalongan IPPNU ikut serta. Acara itu diisi olahraga dan juga menghasilkan lambang IPNU-IPPNU
  • Tanggal 14-17 Maret 1960 diadakan Konbes I di Yogyakarta, membicarakan tentang keorganisasian, kemahasiswaan, Pendidikan Islam serta bahasa Arab
  • Tahun 1964 dilaksanakan Konbes III bersama IPNU di Pekalongan, dengan menghasilkan Doktrin Pekalongan dan Mengusulkan agar KH. Hasyim Asy’ari sebagai pahlawan
  • Tanggal 30 Agustus 1966 dalam konggres di Surabaya IPNU dan IPPNU memohon pada PBNU untuk menerimanya sebagai badan otonom
  • Tahun 1967 pada Muktamar NU di Bandung, resmilah IPPNU dimasukkan dalam PD/PRT NU sebagai badan otonom sampai sekarang
  • Pada perkembangan berikutnya nampak pemerintah juga tidak ingin mengambil resiko membiarkan dunia akademik terkontaminasi dengan unsur politik manapun, sehingga diberlakukan UU No. 8 tahun 1985 tentang keormasan khusus untuk organisasi ekstra pelajar adalah OSIS, selama itu IPPNU mengalami stagnasi pengkaderan dan PP didominasi oleh para aktivis yang usianya sudah melebihi batas. Maka pada konggres IX IPPNU di jombang tahun 1987, secara singkat telah mempersiapkan perubahan asas organisasi dan IPPNU yang kepanjanganya IKATAN PELAJAR PUTRI NAHDLATUL ULAMA telah berubah menjadi IKATAN PUTRI-PUTRI NAHDLATUL ULAMA.
  • Bulan Oktober 1990 pada Konbes IPPNU di lampung, menghasdilkan citra diri dan memantapkan PPOA IPPNU.
  • Pada konggres X IPPNU tahun 1991 di ponpes AL WAHDAH lasem jawa tengah, telah menguatkan independensi IPPNU dan IPNU yang merupakan organisasi terpisah.
  • Tanggal 10-14 juli 1996 di pesantren Al Musyaddidah garut Jabar mengadakan konggres XI IPPNU, yang menekankan usia kepemudaan di tubuh IPNU supaya sejajar dengan organisasi pemuda yang lain.
  •  Konbes bulan september 1998 di Jakarta, menghasilkan rekomendasi yang samgat menonjol di era reformasi yaitu bahwa IPPNU menyambut baik pendirian PKB yang tidak menggumakan nama NU
  • Tanggal 22-25 Maret 2000, pelaksanaan konggres XII IPPNU di Makassar Ujung Pandang, telah mendeklarasikan bahwa IPPNU akan dikembalikanke basis kepelajaran dan wacana Gender.
  • Tanggal 18 –23 Juni 2003 kongres XIII IPPNU di asrama haji sukolilo Surabaya mengembalikan IPPNU kepada Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama
Tokoh – tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU adalah :
1. Rekanita Umroh Mahfudzoh ( Gresik Jatim. 1955 – 1956 )
2. Rekanita Basyiroh Soimuri ( Solo Jateng. 1956 – 1968 )
3. Rekanita Basyiroh Soimuri ( Solo Jateng. 1968 – 1960 )
4. Rekanita Mahmudah Nachrowi ( Malang Jatim. 1960 – 1963 )
5. Rekanita Farida Mawardi ( Surakarta. 1963 – 1966 )
6. Rekanita Mahsanah Asnawi ( Rembang. 1966 – 1970 )
7. Rekanita Ratu Ida Mawaddah ( Serang Banten. 1970 – 1976 )
8. Rekanita Misnar ma’ruf ( Padang Sumbar. 1976 – 1981 )
9. Rekanita Titin Asiyah ( Jakarta. 1981 – 1988 )
10. Rekanita Ulfah Masfufah ( Jatim 1988 – 1991 ; 1991 – 1996 )
11. Rekanita Safira Mahrusah (Yogyakarta. 1996 – 2000 )
12. Ratu Dian Hatifah ( Banten. 2000 – 2003 )
13. Siti Soraya Devi ( Cirebon. 2003 – 2006 )
14. Wafa Patria Ummah ( Jatim. 2006 – 2009 )
Read more »»