Sabtu, 25 Mei 2013

Ketika MTA Laporkan Kiai NU ke Bareskrim Polri

Nasional

 

Sabtu, 25/05/2013 10:32

 

Kabar mengejutkan datang dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas Jombang. Salah satu pengasuhnya, KH Irfan Soleh (Gus Irfan), dikabarkan diperiksa Bareskrim Mabes Polri terkait laporan dari kelompok  yang menamakan diri MTA yang berpusat di Solo.

 

Saat ditemui di kantor yayasan kemarin, Pengasuh ribath Al-Hamidiyah Bahrul Ulum yang juga ketua yayasan PPBU ini membenarkan kabar tersebut. ’’Iya, saya memang dimintai keterangan Bareskrim Polri,’’ ucapnya. Namun itu sudah berlangsung sebulan lalu. “Saya dimintai keterangan pada Selasa 23 April 2013,” bebernya.
Ia mengaku diperiksa selama hampir sembilan jam. “Saya masuk pukul 08.00 pagi dan baru keluar pukul 16.30,’ jelasnya.
Seingatnya, ada 27 pertanyaan yang diajukan penyidik kala itu. “Saya juga diminta menandatangani BAP (berita acara pemeriksaan),” ungkapnya. Namun dari 27 pertanyaan yang diajukan, yang dia tandatangani di BAP hanya belasan. “Di BAP sekitar 12 pertanyaan saja, karena sepertinya diringkas,” jelasnya.
Begitu datang, ia ditanya terkait perasaannya mendapat panggilan Bareskrim Polri. “Ya kaget, karena belum pernah,” ucapnya mengulangi jawabannya.
Selanjutnya, ia ditanya langkah yang dilakukan pasca menerima panggilan tersebut. “Saya jawab setelah terima panggilan saya ke Polres Jombang untuk konsultasi, hasilnya, saya diminta memenuhi panggilan itu. Makanya saya datang,” bebernya.
Pertanyaan penyidik selanjutnya mulai masuk dalam materi pemeriksaan. Mula-mula, dia diminta menyaksikan rekaman video. “Video itu berisi ceramah KH Marzuki Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang) pada acara haflah akhirussanah dan Harlah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ke 186 pada 2011 silam,” terangnya.
Ia lantas dikonfirmasi terkait poin ceramah Kiai Marzuki yang menerangkan tentang Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) yang berpusat di Solo. Pada ceramahnya, Kiai Marzuki mengulas beberapa pandangan MTA yang tak sesuai dengan NU.
Misalnya pandangan MTA bahwa anjing tidak najis karena tak ada teks Al-Qur’an yang menyebutkannya. Kemudian tentang tahlilan dan ziarah kubur yang diharam-haramkan MTA dalam setiap pengajiannya. Sampai-sampai ada statemen bahwa zina lebih baik dibanding tahlilan. 
“Poin-poin ceramah Kiai Marzuki yang seperti itu dianggap mencemarkan nama baik MTA. Makanya mereka lantas melapor ke Bareskrim Polri,” bebernya.
Kiai Marzuki dilaporkan dengan tudingan berlapis yakni penyebar fitnah, pencemaran nama baik, institusi dan pribadi. Lalu menyebabkan perasaan tidak nyaman. Juga pelanggaran undang undang IT dengan ancaman 6 tahun penjara.
“Pelapornya atas nama Drs Medi selaku sekretaris MTA,” kata Gus Irfan. Ia sendiri mengaku tak kenal dengan Medi.
Ia pun sempat ditanya penyidik apakah setuju dengan isi ceramah Kiai Marzuki. “Saya jawab, untuk penguatan jamiyah NU, saya setuju. Karena memang ceramahnya di Tambakberas yang merupakan tempat pendiri NU. Hadirin yang mendengarkan juga dari para santri, alumni dan undangan yang seluruhnya NU,” tegasnya.
Ia lantas dicecar terkait perannya dalam materi ceramah itu. “Saya ditanya apakah menyiapkan teks ceramahnya dan mengarahkan isi ceramah Kiai Marzuki itu. Tentu saya jawab tidak. Tidak ada kultur seperti itu di pesantren. Ilmu kiai justru mampet kalau bicaranya diarahkan dan dibatasi. Saya tegaskan bahwa kiai yang diundang ceramah di Tambakberas itu pilihan. Dan kita mengakui keilmuan Kiai Marzuki. Kita yakin beliau tak akan bicara tanpa pijakan,” paparnya.
Ia juga mengaku diminta menjelaskan perannya memfasilitasi pidato Kiai Marzuki. “Saya tegaskan kita ini memang yang mengundang. Namun untuk isinya, itu kita serahkan sepenuhnya pada beliau,” tutur kiai 52 tahun yang dikaruniai empat orang anak ini.
Gus Irfan mengaku tidak gentar dengan pemeriksaan itu. Termasuk seandainya ikut dijerat dengan tuduhan memfasilitasi pidato yang dianggap merugikan pihak lain tersebut. “Kalau saya ikut dituduh, ya nanti kita hadapi secara hukum. Yang jelas jangan sampai kejadian semacam ini memupus semangat warga NU untuk menggelar pengajian-pengajian. Karena ruhnya NU ya ada dalam pengajian-pengajian itu,” tegasnya. 

Read more »»  

Sabtu, 18 Mei 2013

!!! HADIRILAH !!! GEMA SHOLAWAT DAN ISTIGHOSAH KUBRO 2013

pamflet

 

 

 

HADIRILAAAHHHH HADIRILAAAHHHHH HADIRILAAAHHHHH....

 

 

Gema Sholawat dan Istighosah Kubro dengan Tema : "Membumikan ajaran para wali, menuju Ridho Ilahi" yang insyaalloh dilaksanakan pada hari Ahad, 26 Mei 2013 Pukul 08.00 WIB hingga selesai di Gedung Sport Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Acara ini akan dihadiri oleh KH. Marzuki Mustamar dan KH. AJ. Irfan Aziz...

Read more »»  

Rabu, 15 Mei 2013

the Role of ulama in present Indonesia

 
 
the great advance that man has made in the field of modern science and technology has brought a great change in man's attitude toward religion and in man's concept of theism. man's power in controlling his environment and in changing and adapting it with his needs and comfort, has been on the increase. man thinks himself to be the powerful. a concept of growth in man's power inevitably with it a concept of a decrease in the power of nature and ini the power of god.

the advance man has made in science and technology has, indeed, produced the idea of secularism and the tendency to a secular life in modern societies. man of today is increasingly liberating him self from the control of religion. religion has become less and less important to him. man can live without religion and without god, this belief is now gaining ground. man has gone far as to say that "god is dead"

that this secularizing tendency is a universal phenomenon cannot be denied. if there is any difference between secularization that is taking place in west and the secularization that is happening in the east, the difference is only in that of degree and scope. secularization in the west has a greater speed and a large scope than secularization in the east.

the religion in the east has also begun to lose its string grip of the past on society is now commonly being felt. there is a tendency among religious leader to resent the penetration of western cultur into the east. in their eyes it is the western culture, which has come to the east together with western science and technology, that has brought a change to the religious life of this part of the world.

Indonesia is no exception of religion, especially in urban societies, has begun to decline, compared with the great power it had in the past. It is felt  that the ulama, the muslim religious leaders of this country no longer have the same influence as they had before in the communities they lived in. the ulama, it is furthermore said, have not teken an active and influential part in the realization of the present Indonesian national development program. It has been moreover observed that relations between the Indonesian western educated leaders and the ulama have not been very cordial and smooth.

Major general rustamadji sutopo has more or less the same opinion, when he says that the religious leaders have an important role as agents of communication. Between the religious leaders and society or at least between their and the followers a continuous progress of communication has been established. As such, new ideas acceptable to the ulama, can be easily adopted by the people. Therefore, the ulama, according to hm, have an extremely important role in accelerating the process of development among their followers.

A more detailed role of the ulama is given by professor baroroh. The finctions that they can perfrom in development in her opinion are the following :
1.    To stimulate among the people, in accordance with the teachings of islam, the desire and feeling of responsibility to participate in realization of the national development plan.
2.    To cultivate in the minds and hearts of the officials of development in particular and of the people in general, the principles of honesty, sincerity and integrity.
3.    To foster the harmony between body and soul, between temporal and spiritual life.
4.    To exercise their religious soial control on all in order to safeguard the right course that development has to follow.
5.    To spread the firm belief in god and piety among the people as their guidance in creating a prosperous and just society.

As what prof. dr. subroto, minister of manpower, transmigration and cooperatives, emphasized in the conclusion of the 1973 seminar, islam enjoins the development of man, his society and state, and that ulama, as imams (leaders) should stay in the frontline of development as supporters of new ideas, as promoters of development and as guides in questions of good and evil, of that the result of development could be enjoyed by the whole nation.
Read more »»  

Senin, 13 Mei 2013

Tolong, Shafnya Direbonding!


Ajengan Rijaluddin, atau biasa disapa Ajengan Jalu, ketemu tetangganya di kota kabupaten. Tetangganya itu bernama Fulanah. Dulu, Fulanah sering turut mengaji bersama teman-temannya di majelis ta’lim ajengan Jalu, di kampung Hanjuang.
Sekarang, setelah pindah di kota kabupaten, Fulanah lepas kerudung. Meski rada malu-malu, ia mencium tangan ajengan Jalu, seraya bertanya kabar. “Dari mana atau mau kemana, Fulanah?” tanya Ajengan Jalu.
“Dari salon, habis di-rebonding, Pak Ajengan,” jawabnya sambil menunduk.
Sementara jarinya mengelus-elus rambut lurusnya yang terurai.
“Rebonding itu bagaimana?” tanya ajengan saraya kulit dahinya hampir saja melipat.
“Rambutnya dilurusin, Pak Ajengan, seperti ini,” jawabnya sambil menggerakkan kepalanya, sehingga rambutnya terlempar, seperti di iklan sampo.
“Oooh,” Ajengan manggut-manggut.
Suatu hari, Ajengan Rijaludin memimpin salat Jumat. Sebelum takbiratil ihram, ia menghadap makmun. “Tolong, shafnya di-rebonding!” sambil membenarkan pecinya.

Read more »»  

Rabu, 08 Mei 2013

Alasan Mandi Setelah Keluar Air Mani

 

Rabu, 08/05/2013 10:02

 

Fiqih mengharuskan siapapun yang mengeluarkan air sperma atau air mani baik karena mimpi basah atau karena bersetubuh dengan istri ataupun karena onani (istimta’) wajiblah mandi.

Padahal fiqih juga menerangkan bahwa air mani adalah suci (tidak najis), berbeda halnya dengan air kencing yang najis. Pertanyaan yang sering muncul kemudian bagaimana bisa mengeluarkan seseuatu yang suci malah diwajibkan mandi, sedangkan mengeluarkan yang najis cukup dengan bersuci (istinja’ /cebok) saja, dan cukup berwudhu jika ingin menjadi suci?

Pertama dalil dari hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Abi Said berbunyi:

الماء من الماء

Bermula air (kewajiban mandi) itu dari sebab air (keluar air mani)

Demikian pula riwayat Ummi Salah ra. bahwa Ummul Sulaim berkata “Ya Rasulullah, bahwa Allah swt tidak malu menyatakan yang haq, apakah wajib seorang perempuan mandi apabila ia mimpi jimak?” Rasulullah menjawab “ya, apabila ia melihat air (mani)”.

Kedua hadits di atas merupakan dasar yang telah disepakati oleh para Imam Fiqih, bahwa mengeluarkan mani mewajibkan seseorang mandi. Adapun mengenai kesucian air mani adalah pernyataan Rasulullah saw dalam haditsnya ketika ditanya seseorang mengenai mani yang terkena pakaian, beliaupun menjawab:

إنما هو بمنزلة المخاط والبصاق وإنمايكفيك أن تمسحه بخرقة أو إذخرة

Bahwasannya mani itu setingkat dengan ingus dan ludah, cukuplah bagimu menyapunya dengan percikan air atau idzkhirah (sebangsa rumput wangi).

Jika dalil-dalil tersebut dengan jelas menerangkan kesucian mani dan kewajiban mandi karena keluar mani, tetapi dalil-dalil itu belum menggambarkan adanya hubungan sebab-akibat (keluar mani yang suci mengakibatkan wajib mandi).

Sebagian ulama seperti yang ditulis oleh Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid, menjelaskan bahwasannya alasan (illat) diwajibkannya mandi ketika keluar mani adalah adanya rasa nikmat dan lezat yang mengiringi keluarnya mani itu. Maka mereka yang berpendapat demikian tidak mewajibkan mandi bagi orang yang keluar mani tanpa rasa nikmat seperti mereka yang teramat pulas dalam tidur, maka ia tidak diwajibkan mandi.

Hal ini mungkin dapat dijadikan alasan mengenai proses diwajibkannya mandi, tetapi belum bisa menjawab asal masalah “mengapa mengeluarkan barang yang suci harus mandi, sedangkan mengeluarkan air kencing yang najis tidak perlu mandi?”

Bahwasannya dalam catatan ilmu kedokteran ‘ilmut thibb’ diteragkan dalam sekali tumpahan mani terdapat 2 000 000 000 (dua milyar) benih kehidupan spermatozoid. Maka siapapun yang keluar mani akan kehilangan energy sebanyak itu. Sebagai dampaknya orang yang keluar mani akan segera lemas dan berkurang tenaganya. Hal ini tidak bisa dipulihkan hanya dengan membasuh dzakar ataupun alat kelamin  saja. Tetapi harus dengan cara membasahi badan secara merata terutama dengan air hangat.

Oleh karena itu sebaiknya setelah keluar mani segeralah mandi, agar tubuh kuat kembali. Ini sangat berbeda dengan mengeluarkan air kencing yang hanya mengandung kotoran dari dalam tubuh manusia. Dan cukup dengan membersihkan alat keluarnya. Meskipun keduanya (air mani dan air kencing) keluar dari lubang alat yang sama tetapi keduanya adalah materi yang bebeda. Wallahu a’lam

Read more »»  

Selasa, 07 Mei 2013

Khataman Bareng di Rumah Barunya Mbak Ima

Senin, 6 Mei 2013

 

khataman rumah baru (1)khataman rumah baru (2)

Hari ini IPPNU punya gawe besar lho..... karena pembina IPPNU, Mbak Ima Mutholliatil Badriyah beserta suami, M. Aliyulloh Hadi menmepati rumah baru, tepatnya di Perumahan BCT (Bukit Cemara Tidar) blok O no.4.

Dalam acara peresmian rumah tersebut, seluruh punggawa IPPNU, perwakilan IPNU, Bang Umar, dan teman-teman lain datang menyerbu (kayak perang aja). Dibuka dengan pembacaan Al-Qur'an hingga khatam pada pukul setengah 4 sore, dilanjutkan dengan sholat maghrib berjamaah, dan ditutup dengan tahlil dan do'a.

Dalam kesempatan tersebut, Bang Umar, pembina IPNU PKPT UIN Maliki, berharap semoga rumah yang baru ini bisa membuat penghuninya betah, menjadi tempat membangun bahtera rumah tangga yang harmonis, dan menjadi tempat yang penuh barokah dengan ibadah dan ilmu. Kemudian disambut dengan ucapan dari para hadirin.

Setelah sambutan dari sohibul bait, acara dilanjut dengan ramah tamah, kemudian acara diakhiri 30 menit sebelum kumandang adzan 'Isya.

 

Semoga menjadi rumah yang barokah, Amiinn.......

Read more »»  

Senin, 06 Mei 2013

Memperingati haul ke-51 Pendiri ponpes Darul hadits : Menjaga Ajaran Ahlussunah wal Jamaah, Mencetak Ahli Hadits

Ahad, 5 Mei 2013

 

Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah Ahlussunah wal Jamaah, tahun ini berusia 68 tahun. Lembaga pendidikan Keislaman yang berada di tengah Kota Malang, tepatnya di Jalan Aris Munandar 8 A-B ini didirikan oleh Maha Guru Al-Ustadz Al-Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy. Setelah sang pendiri wafat, Pengasuh dilanjutkan sang putra, yakni Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih.
Di pesantren yang berdiri pada 12 Rabiul Awal 1364 H atau 12 Februari 1945 ini setiap santri harus melewati empat tahapan pendidikan. Pertama, tingkatan Tamhidiy, atau disebut juga dengan I’dadiy. Tingkatan paling dasar yang dapat ditempuh selama dua tahun ini merupakan persiapan santri sebelum mengenyam pendidikan ibtidaiyah.
Selesai dari tingkat Tamhidiy, santri dapat melanjutkan ke tingkat Ibtidaiyah selama 3 tahun. Pada jenjang Ibtidaiyah, santri diberikan materi pembelajaran dalam berbagai disiplin ilmu. Seperti halnya untuk ilmu alat, dipelajari kitab Jurumiyah dan Al-Wadlih (Nahwu). Untuk bidang fiqh diajarkan kitab Durusul Fiqhiyyah. Sedangkan untuk kitab Hadits diajarkan At-Targhibu Wa Tat-Tarhib dan kitab-kitab hadits lainnya.
Setelah menempuh tiga tahun di Ibtidaiyah, dilanjutkan ke tingkat Tsanawiyah. Pada jenjang Tsanawiyah ini, jenis pelajaran dan kitab yang diajarkan mulai beragam, diantaranya Jami’ud Durus (Nahwu) dan Alfiyah (Bahasa Arab).
Untuk bidang fiqh kitab yang digunakan adalah kitab Fathul Qarib dan Fathul Mu’in. Untuk kajian hadits menggunakan kitab Mustholah Hadits, Riyadhus Shalihin, dan Shahih Bukhari.
Program Tsanawiyah, setiap santri juga diwajibkan mempelajari ilmu Mantiq. Program Tsanawiyah ini berlangsung selama 3 tahun. Program tingkatan tertinggi di Ponpes Darul Hadits ini adalah tingkat Aliyah. Jenjang Aliyah ditempuh selama 3 tahun. Kitab-kitab yang dijadikan sebagai bahan pelajaran, sebagian besar adalah kitab-kitab yang dipergunakan pada tingkat Tsanawiyah. Seperti pelajaran Nahwu masih meneruskan kitab Alfiyah yang dikarang Ibnu Malik. Di Program Aliyah ini juga dipelajari kitab-kitab Ibnu Aqil seperti Al-Yaqutun Nafis dan Anwarul Masalik.
Dengan melihat alur tingkatan pendidikan Darul Hadits, untuk menempuh pendidikan dari tingkat Tamhidiy sampai Aliyah dibutuhkan sekitar 11 tahun. Pelaksanaan pendidikan di Darul Hadits ini terbagi dalam beberapa waktu pelajaran. Pelajaran dimulai sehabis salat berjamaah sampai jam 07.30. Pengajian ini dilaksanakan secara klasikal atau sorogan dan diasuh langsung oleh pengasuh Ma’had, yakni Habib Muhammad bin Abdullah Bilfagih.
Lepas sarapan pagi, tepat pukul 08.00 setiap santri kembali ke kelas masing-masing untuk menerima pelajaran hingga waktu salat Dhuhur. Lepas makan siang, pendidikan dilanjutkan sampai waktu Ashar. Dalam lingkungan pesantren ini, setiap santri diwajibkan memakai bahasa Arab sebagai bahasa komunikasi sehari-hari baik dalam pelajaran di ruang kelas mau pun dalam pergaulan antar santri.
Di Pondok ini juga terdapat Majelis Taklim yang terbuka untuk masyarakat luas pada minggu pertama dan minggu ketiga. Dulu majelis ini khusus mengajarkan khusus Thoriqoh Alawiyyah. Saat ini dibuka untuk umum dan kitab yang diajarkan adalah kitab Shohih Bukhori dan An-Nashaih ad-Dinniyah.
Darul Hadits memang mencetak alumni-alumni ahli hadits yang mumpuni, tak heran bila dalam menerima santri-santri pun ekstra ketat dan materi pelajarannya pun memuat kurikulum mata pelajaran hadits. “Santri-santri dari pondok pesantren ini diharapkan menjadi alumni pondok yang ahli hadits yang mumpuni. Kenapa yang dipelajari kebanyakan hadits, karena hadits merupakan cerminan dari syari’at Rasulullah SAW dan Islam,” kata Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, salah satu pengajar Darul Hadits.
Saat ini jumlah santri Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang, sebanyak 200 orang yang berasal dari Jakarta, Bandung, Jepara, Madura, dan kota-kota sekitar Jawa Timur. Sedangkan jumlah asatidz yang mengajar di pondok ini ada sekitar 20 ustadz.
Ponpes Darul Hadits ini telah mencetak ribuan alumni yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Para alumni yang mengikuti jejak pengasuh pesantren ini diantaranya Ustadz Ahmad Al-Habsyi (PP Ar-Riyadh, Palembang), Ustadz Muhammad Ba’abud (PP Darul Nasyi’in (Lawang, Malang), Habib Syekh bin Ali Al Jufri (MT Al-Khairat, Jakarta Timur), KH Alawy Muhammad (PP At-Taroqy, Sampang, Madura) dan lain-lain.
Sebagai Pondok Pesantren yang menerapkan system Salafy, PP Darul Hadits menerapkan seleksi yang cukup ketat kepada setiap santri. Seperti halnya dalam masalah narkoba, setiap santri harus melampirkan surat keterangan sehat dari dokter. Bagi yang pernah terjerumus dalam narkoba, wajib melampirkan surat keterangan dokter atau laboratorium bebas dari narkoba. Bagi calon santri yang bertato harus menghilangkan tatonya terlebih dahulu.
Pondok Darul Hadits ini sekarang diasuh oleh tiga putra Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih yakni Ustadz Sayyid Abdul Qadir Bilfagih, Ustadz Sayyid Muhammad Bilfagih dan Ustadz Sayyid Abdurrahman Bilfagih. Sekretaris Ma’had dipegang Ustadz Dimyati Ardawi. Sebagai bendahara yakni Ustadz Sukri Zaini dan H. Slamet.
Dalam struktur pondok terdapat lima bidang (seksi) kegiatan pesantren. Seksi majelis taklim diasuh Ustadz Sayyid Muhammad bin Abdul Qadir Bilfagih. Seksi pendidikan dan pengajaran oleh Ustadz Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, Ustadz Mohammad Santoso, Ustadz Abdul Muid.
Di tengah kemajuan zaman yang terus berputar, kini Ponpes Darul Hadits terus berpacu dengan waktu untuk terus mengembangkan mutu pendidikan dan sarana pesantren. Gedung yang terletak di Jl  Aris Munandar, kini terus dibangun sebanyak 3 lantai sehingga dapat menampung lebih banyak santri dan diharapkan para santri yang keluar itu menjadi ahli hadits yang mumpuni serta berkiprah secara positip di tengah masyarakat.
Untuk peringatan Haul tahunan pendiri Darul Hadis Malang yakni Guru Al-Ustadz Al-Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfagih Al-Alawy dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih diperingati tiap akhir dari Jumadil Akhir. Tahun ini akan diperingati pada Sabtu, 4 Mei 2013, dengan acara rauhah dan pembacaan Manakib dua pendiri Darul Hadist serta kalam salaf.
Acara puncak haul pada Minggu, 5 Mei 2013,dengan gelar Pengajian Akbar yang menghadirkan ulama dan habaib dari seluruh penjuru tanah air bahkan dari luar negeri.

Read more »»  

Minggu, 05 Mei 2013

Biografi KH. Marzuki Mustamar; Singa Pembela Ahlussunnah dari Malang

 

 

Penampilannya

Penampilan beliau sederhana dan apa adanya. Beliau tidak pernah neko-neko. Karena begitu sederhananya, kadang orang tidak mengira bahwa beliau adalah seorang kyai. Di balik kesederhanaan beliau tersimpan lautan ilmu yang begitu luas. Kiprah beliau di masyarakat sudah tidak diragukan lagi. Gaya bicara beliau yang tegas dan lugas menjadi salah satu ciri khas beliau.

Rajin Ngaji Sejak Kecil

Kyai Marzuki lahir di kota Blitar, 43 tahun yang lalu. Sungguh beruntung Kyai Marzuki karena dilahirkan dalam keluarga yang taat beribadah sekaligus mengerti agama. Ya, abahnya adalah seorang kyai. Alhasil, sejak kecil Kyai Marzuki dibesarkan dan dididik oleh kedua orang tua beliau dengan disiplin ilmu yang tinggi. Di bawah pengawasan orang tua beliau inilah putra dari Kyai Mustamar dan Nyai  Siti Jainab ini mulai belajar  al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama.
Selain dididik disiplin ilmu yang tinggi, ternyata beliau waktu kecil sudah dididik tentang kemandirian agar memiliki etos kerja yang tinggi dengan cara memelihara kambing dan ayam petelur milik Bu Lik Umi Kultsum. Dengan memelihara kambing dan ayam petelur inilah, beliau mendapat pelajaran bagaimana membimbing umat islam, dan bagaimana menjadi pemimpin.

Latar belakang Pendidikannya

Saat duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah sampai sebelum belajar di Malang, anak kedua dari delapan bersaudara ini mulai belajar ilmu  nahwu, shorof, tasawuf dan ilmu fikih  kepada Kyai Ridwan dan Kyai-Kyai lain di Blitar. Sejak SMP, beliau diminta mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil lainnya kepada anak-anak dan tetangga beliau. Pada usia yang masih belia tersebut, beliau sudah mengkhatamkan dan faham kitab Mutammimah pada saat beliau kelas 3 SMP.

Selepas dari SMP Hasanuddin, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri Tlogo Blitar. Kyai Marzuki muda merupakan pemuda yang beruntung sebab di usia beliau yang masih belia itu, beliau sudah mendalami ilmu agama ke beberapa orang kyai di Blitar. Di antaranya, beliau  mendalami ilmu balaghoh dan ilmu mantek kepada Kyai Hamzah. Mendalami ilmu fikih kepada Kyai Abdul Mudjib dan ngaji Ilmu Hadits kapada Kyai Hasbullah Ridwan.

Ketika beliau duduk di bangku Aliyah, beliau sudah khatam kitab Hadits Muslim dan kitab-kitab kecil lainnnya. Sebelum beliau belajar di Malang, selama di Blitar yang mengajar beliau adalah Orangtua beliau, Kyai Hasbullah Ridwan yang masih eyang beliau, Kyai Hamzah dan Kyai Mujib adalah guru beliau di MAN Tlogo.

Setamat dari MAN Tlogo pada tahun 1985, kyai kelahiran 22 September 1966 ini melanjutkan jenjang pendidikan formalnya di IAIN (sekarang UIN Maulana Malik Ibrahim) Malang, yang waktu itu masih merupakan cabang IAIN Sunan Ampel Surabaya. Untuk menambah ilmu agama yang sudah beliau dapat, Kyai yang juga Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang ini nyantri kepada Kyai Masduki Mahfudz di Pondok Pesantren Nurul Huda Mergosono. Mengetahui kecerdasan dan keilmuan Kyai Marzuki yang di atas rata-rata santrinya yang lain, akhirnya Kyai Masduki memberi amanah kepada Kyai Marzuki untuk membantu mengajar di pesantrennya, meskipun saat itu Kyai Marzuki masih berusia 19 tahun. “Saat itu saya diminta untuk mengajar kitab Fathul Qorib bab buyuu’ (jual-beli),” Kenang kyai yang juga Dosen Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini.

 

Berguru pada KH. Masduqi Mahfudz

Selain itu, Kyai Marzuki juga beruntung, karena beliau seringkali  diminta untuk mendampingi dakwah Kyai Masduki saat mengisi pengajian maupun dalam rapat-rapat organisasi kemasyarakatan. Dari sinilah Kyai marzuki mulai mengetahui betapa beratnya tugas seoarang ulama dalam mengayomi ummat. Dari gurunya yang juga Rois Syuriah NU Wilayah Jawa Timur itu, Kyai Marzuki belajar akan keistikomahan menjadi seorang guru.  Kyai Masduki Mahfud itu meskipun pulang malam hari dari mengisi pengajian, beliau selalu membangunkan para santrinya untuk mengaji,” ungkap Kyai Marzuki.

Salah satu kelebihan beliau, saat masih duduk di bangku kuliah, Kyai Marzuki sudah biasa memberikan kursus nahwu kepada mahasiswa yuniornya. Namun, ternyata, banyak juga mahasiswa yang tidak hanya belajar nahwu, namun juga mengaji kitab kepadanya. Dengan begini, keilmuan beliau semakin terasah. Kemudian pada tahun 1987 Kyai berputra tujuh ini mendapatkan kesempatan  belajar di LIPIA Jakarta. Setelah menempuh dua tahun masa studinya di sana, Kyai Marzuki kembali ke Malang untuk membantu mengajar di pesantren Nurul Huda, Mergosono dan melanjutkan kuliah S-1.

 

Membangun Rumah Tangga dan Pesantren

Pada tahun 1994, Kyai Marzuki memulai hidup baru. Beliau mempersunting salah seorang santriwati Pondok Nurul Huda  yang bernama Saidah. Sang istri merupakan putri Kyai Ahmad Nur yang berasal dari Lamongan. Kyai Marzuki sangat bersyukur sekali sebab gadis yang menjadi pendamping hidup beliau adalah seorang hafidzoh (hafal Al-qur’an).

Selang satu bulan setelah menikah, Kyai Marzuki bersama istri mencoba mengadu nasib dan hidup mandiri. Saat itu Kyai Marzuki memilih  daerah Gasek, Kecamatan Sukun sebagai tempat jujugan beliau. Pada mulanya, beliau mencari rumah kontrakan yang dekat dengan masjid. Dan akhirnya, beliau ngontrak di rumah salah seorang warga yang bernama pak Har. Setelah segala sesuatunya dianggap cukup, Kyai Marzuki akhirnya menempati tempat yang baru. Pada saat beliau boyongan, tak lupa santri-santri Pondok Nurul Huda ikut mengantarkan Kyai Marzuki boyongan ke tempat barunya dan membantu usung-usung barang-barang dan kitab-kitab guru mereka.

Tanpa diduga sebelumnya, pada hari pertama beliau menempati rumah itu, ternyata sudah banyak santri yang datang mengaji kepada beliau. Di rumah yang sederhana itulah Kyai Marzuki mengajar para santri beliau. Mereka yang waktu itu belajar merupakan cikal bakal santri dan pesantren beliau yang kini menjadi benteng utama umat di wilayah Gasek. Karena santrinya semakin bertambah banyak maka rumah beliau tidak memadai sebagai tempat belajar mereka. Namun, alhamdulillah, Allah SWT memberikan jalan. Waktu itu di daerah Gasek sudah ada Yayasan Sabilurrosyad yang sudah memiliki lahan luas. Namun, setelah beberapa tahun didirikan Yayasan ini belum bisa berkiprah secara optimal. Akhirnya Kyai Marzuki bekerjasama dengan Yayasan Sabilurrosyad mendirikkan sebuah pesantren dengan Nama Sabilurrosyad.

 

Aktivitasnya

Selain sibuk membimbing para santri, kyai yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Bahasa Arab Universitas Islam Malang ini juga disibukkan dengan urusan ummat. Tiada hari tanpa memberikan pengajian atau mauidzhoh kepada umat. Mulai mengisi pengajian dari masjid ke majid, blusukan keliling kampung dan lain sebagainya. Saat ini, Kyai Marzuki juga aktif di berbagai organisasi kegamaan di antara sebagai Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang dan anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang. Kedalaman ilmunya sangat dirasakan oleh umat. Sebagai contoh beliau menyusun sebuah kitab, tentang dasar-dasar atau dalil-dali amaliyah yang dilakukan oleh warga nahdhiyyin. Melalui kitab ini, Kyai Marzuki ingin membuka mata umat bahwa amalan mereka ada dasar hukumnya, sekaligus menjawab tuduhan-tuduhan orang-orang yang tidak setuju dengan sebagian amaliayh warga Nahdhiyyin. Saking hebat dan lugasnya beliau menerangkan itu semua, sampai-sampai Kyai Baidhowi, Ketua MUI Kota Malang memberi julukan “Hujjatu NU”. “Kalau Imam al-Ghozali dikenal sebagai Hujjatul Islam, maka Kyai Marzuki ini Hujjatu NU” Demikian pernyataan Kyai Baidhowi dalam beberapa kesempatan.

Meski kegiatan beliau sangat padat, namun, Kyai yang juga penasehat FKUB ini tetap berusaha untuk menjadi orangtua yang baik. Beliau begitu dekat dan akrab dengan anak-anak beliau yang masih kecil-kecil itu. Tak jarang pula, beliau ikut mengantarkan atau menjemput putra putri beliau sekolah. Dari hasil pernikahan dengan Bu Nyai Saidah, Kyai marzuki dikaruniai tujuh orang putra. Dua laki-laki dan lima perempuan. Semua putra putrinya disekolahkan di SD Sabilillah Blimbing. Kecerdasan Kyai Marzuki sepertinya menurun kepada putra-putrinya, terbukti dengan nilai mereka yang seringkali mendapat nilai sempurna termasuk pelajaran eksakta. Bahkan beberapa waktu yang lalu putri beliau menjadi juara Olimpiade Matematika di Yogyakarta dan kini sekolahdi  SMP Internasional PASIAD milik negera Turki.

 

Kelebihannya, Five in One

Paling tidak, ada 5 kelebihan yang dimiliki oleh beliau yang sulit ditemukan pada orang lain, yaitu (1) kekuatan hafalannya, (2) kejelasan dan keruntutan dalam penyampaian materi kepada jamaah, (3) kedalaman pemahaman agamanya, (4) kekuatan logika dan analogi berfikirnya/mantiq, (5) mampu beradaptasi dalam ceramahnya dengan kalangan apapun, dari kaum kampungan sampai sarjana, bahkan doktor dan profesor.

 

Karya Beliau

Pada tahun 2010 ada satu karya dari tulisan beliau yang monumental yang kini sudah puluhan kali cetak ulang dan disampaikan di hampir ke seluruh penjuru nusantara, yaitu Al-Muqtathafat li ahl al-Bidayat. Buku ini berisi sanggahan kepada beberapa kelompok terutama salafi wahabi yang suka membid’ahkan amaliah kaum Nahdliyyin, dikutip dari dalil-dalil Al-Quran, As-Sunnah dan kaidah Ushul Fiqh. Buku ini masih diperuntukkan untuk kalangan terbatas karena masih berbahasa Arab, yakni para [ecinta ilmu, kalangan santri dan pengurus NU. Harapan beliau buku tersebut bisa disampaikan kepada orang lain, manakala sudah dibacakan dan diijazahkan oleh pengarangnya langsung.

 

Biodata KH. Marzuqi

Nama        : KH. Marzuki Mustamar
TTL            : Blitar, 22 September 1966
Alamat      : PP. Sabilurrosyad Gasek Malang Telp.(0341) 564446

Pendidikan:
1.      TK Muslimat Karangsono Kanigoro, Blitar  tahun 1972
2.      MI. Miftahul ‘Ulum, Tahun 1979
3.      SMP Hasanuddin, Tahun 1982
4.      MAN Tlogo, Tahun 1985
5.      PP. Nurul Huda, Mergosono
6.      LIPIA Jakarta, Tahun 1988
7.      S-1 IAIN Malang, Tahun 1990
8.      S-2 UNISLA Tahun, 2004

Istri: Hj. Saidah
Putra-Putri:
1.      Habib Nur Ahmad
2.      Diana Nabila
3.      Millah Shofiya
4.      M. ‘Izzal Maula
5.      ‘Izza Nadila
6.      Rossa Rahmania
7.      Dina Roisah Kamila

Jabatan:
1.      Ketua Tanfidiyah PCNU Kota Malang 2 periode
2.      Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad
3.      Anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang
4.      Dosen Humaniora dan Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
5.      Penulis tetap di Media Ummat rubrik Mutiara Hadits dan Tanya Jawab

6.      Imam dan khotib, pemateri pengajian tetap Masjid Agung Jami’  Malang

7.     Imam dan khotib, pemateri pengajian tetap masjid Sabililillah Malang dan banyak masjid besar lainnya

 

Artikel diadopsi dari situs: http://www.pesantren-gasek.net

 

Berikut ini kumpulan ceramah KH. Marzuqi Mustamar (MP3) yang bisa di download:

1. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin membaca al-Quran dari al-Quran dan Sunnah

2. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin membaca aneka shalawat dari al-Quran dan Sunnah

3. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin membaca aneka dzikir dari al-Quran dan Sunnah

4. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin membaca aneka doa dari al-Quran dan Sunnah

5. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (5)

6. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (6)

7. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (7)

8. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (8)

9. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (9)

10. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (10)

11. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (11)

12. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (13)

13. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (16)

14. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (18)

15. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (19)

16. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (20)

17. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (21)

18. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (22)

19. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (23)

21. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (24)

22. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (25)

23. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (26)

24. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (27)

25. Argumentasi/dalil tradisi kaum nahdliyyin (28)

 

Kajian Tematis Eksklusif bersama KH. Marzuqi

1. Kajian kitab Mukhtarul Ahadits

2. Ceramah asli beliau tentang Majelis Tafsir Al-Quran (MTA)

Ceramah tematik beliau di beberapa tempat bisa juga didownload di sini

 

Mohon maaf, rekaman yang kami upload masih belum lengkap dan urut, karena keterbatasan jaringan internet dan kelengkapan file yang kami miliki. Kami berupaya terus untuk menyajikan yang terbaik dari ceramah-ceramah KH. Marzuki Mustamar, insyaallah. Kami juga mohon maaf  belum sempat melakukan editing konten, sehingga masih ada ceramah beliau yang menyinggung kelompok Islam yang lain. Sebenarnya semua ceramah di atas disampaikan dalam forum terbatas (pengurus NU, santri dan alumni, jamaah khusus) dan sama sekali tidak diniatkan untuk menyerang kelompok lain. Hal itu karena gaya beliau yang humoris, tegas, ceplas-ceplos, interaktif dengan jamaah, sehingga subyektifitas muncul tanpa disengaja. Kami yakin selama pendengar memiliki niat yang tulus untuk belajar, pasti akan menikmati dan selalu berhusnuzzon.

 

Perhatian utk para pembaca, mohon maaf dan agar dimaklumi bahwa segala komentar yang kasar atau tidak santun di blog ini tidak akan kami muat demi menjaga ukhuwah sesama muslim

Read more »»  

Jumat, 03 Mei 2013

Memperingati Haul ke 51 Pendiri Ponpes Darul Hadits : Ulama dan Habaib Gelar Do’a Bersama untuk Keselamatan Bangsa

 

Kamis, 3 Mei 2013


 

Ratusan Ulama dan Habaib diikuti ribuan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, akan menggelar do’a bersama untuk keselamatan bangsa Indonesia dari berbagai bencana yang beberapa bulan ini menimpa Indonesia.
Ketua Panitia Haul, Ustad Kukuh mengatakan, gelar Do’a Bersama itu sekaligus memperingati Haul Akbar ke-51 Pendiri dan Pengasuh Ponpes Hadits Alfaqihiyyah , Maha Guru Al Ustadzul Imam Alhabr Alqutub Alhabib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih dan Al Ustadzul  Imam Alhafidz Almusnid  Alqutub Prof DR Alhabib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih yang akan digelar pada Minggu, 5 Mei 2013, pukul 08.00 WIB, di sepanjuang Jalan Aris Munandar, tepatnya di halaman Pondok Pesantren Darul Hadits Alfaqihiyyah, Kota Malang.
Menurut Ustad Kukuh, selain dihadiri ratusan ulama dan habaib serta puluhan ribu umat Islam, juga akan diisi ceramah agama oleh KH. Subadar dari Pasuruan dan KH. Muhidin Abdul Qodir.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hadits Malang, Al Ustad Al Habib Muhammad bin Abdul Qodir bin Abdullah Bilfaqih melalui kepala hubungan masyarakat (Kahumas) Ustad Ir. Kukuh Abdul Aziz, mengatakan, Haul Akbar Pendiri dan Pengasuh Pesantren ini memang diselenggarakan setiap tahun, tepatnya minggu akhir Jumadil Akhir atau Mei, yang bertujuan mengenang jasa dan perjuangan Pendiri dan Pengasuh Darul Hadits Malang (Imamain).
Sosok Imam Alhabr Alqutub Alhabib Abdul Qodir Bin Ahmad Bilfaqih, kata Ustadz Kukuh, adalah pendiri pondok Darul Hadits Malang, yang didirikan enam bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI. ‘’Tekat dan keberanian beliau patut dicontoh oleh umat Islam. Beliau berani mendirikan pesantren ditengah Indonesia masih dikuasai penjajah,’’ kata Ustad Kukuh, kemarin.
Selain memiliki keberanian dan hanya takut kepada Allah SWT, Habib Abdul Qodir bi Ahmad Bilfaqih juga keturunan Rasulullah S.A.W yang ahli hadits, hafal ribuan hadits, yang mampu menguasai dalam riwayat maupun diroyahnya, serta ahli thoriqoh,
Sedangkan sosok Al Ustadzul Imam Alhafidz Almusnid Alqutub Prof DR Alhabib Abdullah bi Abdul Qodir Bilfaqih, sejak kecil tak pernah lelah untuk belajar dan mendalami ilmu agama, ia juga hafal ribuan hadits dan hafal belasan kitab seperti ayahnya.
Selain itu, Prof. DR Alhabib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih juga ahli ilmu tasawuf dan dipercaya sebagai dosen perguruan tinggi Islam di Indonesia maupun luar negeri, muridnya tersebar bukan hanya di Indonesia, tapi tersebar di seluruh dunia.
‘’Semoga dengan pelaksanna Haul Akbar dan Do’a Bersama untuk keselamatan bangsa Indonesia ini, rakyat Indonesia diberikan kedamaian, ketenangan hati dan bisa meningkatkan ibadahnya kepada Allah SWT. Semoga  pula Allah memberi kedamaian hati dan rejeki yang barokah. Selain itu, Pengasuh Darul Hadits, Al Ustad Al Habib Muhammad bin Abdul Qodir bin Abdullah Bilfaqih semoga diberi kekuatan Allah untuk melanjutkan perjuangan Pendiri dan Pengasuh yang juga ayahandanya sendiri,“ harapnya.

Read more »»  

Mbah Kholil, Orang Arab, dan Macan Tutul

 

Jumat, 03/05/2013 14:01

 

Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya.

Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, “Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih.” Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil.

Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. “Silakan ambil wudhu di sana,” ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid.

Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih, ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat.

Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi.

Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur’an yang menguasai qiraat sab’ah (tujuh cara membaca al-Qur’an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

Read more »»