Kamis, 25 April 2013

Munculnya Departemen Perguruan Tinggi IPNU, PMII

Kelahiran Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tidak dapat dipisahkan dengan kelahiran dan keberadaan IPNU-IPPNU. Secara Yuridis Formal bahkan dalam mukaddimah PD/PRT (kini disebut AD/ART) PMII telah dinyatakan dengan tegas bahwa PMII adalah kelanjutan dari Departemen Perguruan Tinggi IPNU yang telah dibentuk dalam Muktamar III IPNU di Cirebon Jawa Barat.

Oleh karena itu sebelum kita menginjak tentang sejarah perjuangan PMII alangkah lebih baiknya apabila kita menengok sebentar tentang kelahiran dan keberadaan IPNU sebagai “Modal Dasar” berdirinya PMII. Bukankah masa kini merupakan kelanjutan dari masa lalu?

Upaya untuk membentuk wadah organisasi pelajar dikalangan NU jauh hari sebenarnya sudah lama ada. Tercatat dalam sejarah perjalanan IPNU-IPPNU, pada tahun 1936 di Jombang Jawa Timur telah berdiri sebuah organisasi yang menghimpun santri-santri Pondok Pesantren. Organisasi itu kemudin dikenal dengan nama Persatuan Santri Nahdlatul Oelama (PSNO). Berdirinya PSNO walaupun hanya terbatas di kalangan pelajar pondok pesantren di Jatim saja, akan tetapi keberadaannya, patut dicatat dalam lembaran sejarah terutama sejarah kaum Nahdliyin, karena hal ini merupakan satu kesadaran yang penting; betapa perlunya hidup berorganisasi di kalangan pelajar.

Entah karena situasi Nasional ataupun karena terdapatnya kelemahan-kelemahan organisasional PSNO itu sendiri, akhirnya organisasi ini tidak pernah terdengar dalam percaturan dunia pelajar Indonesia, sampai dengan timbulnya satu kesadaran baru dikalangan pelajar NU yang berada di Surakarta untuk kembali menghimpun diri dalam satu wadah perjuangan khusus pelajar.

Di Kota Surakarta, (yang biasa dijadikan barometernya politik Jawa Tengah - pen) Sekelompok Pelajar SMA Negeri Surakarta yang dipelopori oleh rekan Mustahal Ahmad dan A Chalid Mawardi pada tanggal 27 Desember 1953, mendirikan satu wadah organisasi yang menghimpun para pelajar NU. Organisasi ini masih bersifat lokal dan bernama Ikatan Pelajar Nahdatul ‘Ulama Surakarta (IPNUS). Agar wadah ini berkembang menjadi wadah Nasional dan manfaatnya akan jauh lebih besar, maka 4 (empat) orang tokoh pelajar NU (rekan A Mustahal Ahmad, A. Ghoni Farida, dan rekan Sofyan Kholil serta A Chalid Mawardi) dalam Konferensi Besar I Lembaga Pendidikan maarif NU mereka minta untuk diberi kesempatan berbicara.

Dalam acara persidangan tersebut juru bicara dari para pelajar tersebut adalah rekan Chalid Mawardi (Bp. Drs H. Mustahal Ahmad pernah mengatakan sebenarnya beliau yang akan berbicara karena secara usia beliau lebih tua dari Bp. A Khalid Mawardi, tetapi karena vokal Bp. Chalid Mawardi lebih baik maka beliau diberi kesempatan berbicara terlebih dahulu - Pen) setelah juru bicara itu secara panjang lebar menguraikan betapa pentingnya ada satu wadah dikalangan pelajar-pelajar NU yang wadah ini bertujuan antara lain:

1. Untuk melanjutkan azaz NU yakni Ahlus Sunnah Waljamaah.

2. Sebagai konsekensi terhadap Partai NU yang secara terang dan tegas menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi partai yang berdiri sendiri.

3. Adanya kenyataan bahwa PII (Pelajar Islam Indonesia) belum dapat menampung pelajar-pelajar umum dan pelajar pesantren.

Akhirnya setelah mendengar dari kedua tokoh pelajar tersebut, maka Konbes I LP maarif NU dengan suara bulat dalam persidangannya pada hari Rabu tanggal 24 Februari 1954 menerima dengan bulat lahirnya organisasi Pelajar NU ini (yang kemudian dikenal dengan nama IPNU) dan menunjuk rekan Tolhah Mansyur sebagai ketua pertama.

Disusul kemudian pada 2 Maret 1955, berdiri pula Ikatan Pelajar Nahdalatul Ulama Putri di Solo. Organisasi ini untuk pertama kali disponsori oleh Umroh Mahfudzoh, Nihayah Mujib, dan Rumsiah. Bersamaan dengan muktamar I IPNU di Malang yang diselenggarakan pada tanggal 28 Februari s/d 5 Maret 1955 diusulkan dalam forum Muktamar ini dibentuknya satu wadah organisasi baru yang khusus menampung pelajar putri NU.

Dalam wadah IPNU-IPPNU itu banyak juga terdapat para mahasiswa yang menjadi anggotanya, bahkan hampir seluruh anggota pengurus pusat telah berpredikat sebagai mahasiswa. Oleh karena itu lama kelamaan ada keinginan di kalangan mereka untuk membentuk wadah yang khusus menghimpun para mahasiswa NU.

Suara-suara ini sangat nyaring terdengar terutama dalam muktamar III IPNU pada tanggal 1 – 5 Januari 1957 di Pekalongan, tetapi pucuk pimpinan IPNU sendiri masih belum menanggapi dengan serius suara-suara ini dikarenakan kondisi seperti yang dipaparkan di atas, yakni banyaknya pengurus IPNU-IPPNU yang telah menjadi mahasiswa, sehingga dikhawatirkan kalau wadah khusus mahasiswa ini berdiri akan lenyaplah IPNU-IPPNU.

Tetapi nampaknya aspirasi ini makin kuat, terbukti dalam muktamar III IPNU pada tanggal 27 – 31 Desember 1958 di Cirebon pucuk pimpinan IPNU setelah didorong oleh para peserta muktamar mengabulkan adanya satu wadah khusus yang menghimpun para mahasiswa NU tetapi secara fungsional dan organisatoris struktural masih didalam naungan IPNU – IPPNU yakni dengan nama wadah Departemen Perguruan Tinggi IPNU.

Nampaknya upaya untuk menanggulangi permasalah ini belum menunjukkan hasilnya. Keberadaan Departemen Perguruan Tinggi IPNU tidak berhasil menjawab permasalahan mahasiswa NU. Terbukti dalam konferensi Besar I IPNU pada tanggal 14 – 16 Maret 1960 di Kaliurang Yogyakarta Forum konferensi Besar memutuskan menyetujui terbentuknya organisasi mahasiswa NU yang terpisah secara struktural maupun fungsional dari IPNU IPPNU.  (Ajie Najmuddin/Red:Anam)


Sumber: Sejarah singkat IPNU IPPNU, buku. Kenang-kenangan Makesta IPNU-IPPNU Kodya Surakarta (1970) ; Buku Sejarah PMII Surakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar